Sesuai dengan janji pada Catatan Keenam untuk menceritakan acara pulang kampung ke Malang, maka di Catatan Kedelapan ini membagi cerita tetang perjalanan ke Malang. Sejak lama memang sudah aku rencanakan untuk pulang kampung sebelum acara pernikahanku. Tujuan utamaku adalah ziarah ke makan almarhum ibunda tercinta. Akhirnya aku putuskan pulan tanggal 5 Desember 2008 karena pertimbangannya ada Idul Adha pada tanggal 8 Desember 2008 jadi ada libut total 3 hari, jadi ngga perlu ngajuin cuti cuman ijin terlambat pas tanggal 9 Desember 2008 karena baru pulang tanggal 8 Desember 2008 sore harinya.
Karena tidak direncanakan jauh-jauh hari untuk pemesanan tiket, benar sudah kesulitan aku dapatkan saat mencari tiket. Tiket kereta api yang menjadi target utama ternyata habis hampir semua jurusan untuk tanggal 5 Desember 2008 dan tentunya untuk kereta jurusan Malang yaitu KA Gajahyana. Harga tiket pesawat jurusan Malang juga gila-gilaan harganya dari biasanya cuman 400rb - 500rb tembuh jadi 900rb-an. Akhirnya coba hubungi Ayah di Malang untuk meminta bantuan untuk mencarikan tiket tanggal 5 Desember dan tanggal 8 Desember 2008 untuk pulang dari Malang ke Jakarta. Akhirnya dengan sedikit menggunakan kemampuan akses ke bagian tiket maka sukses untuk mendapatkan tiket tanggal 5 dan 8 Desember 2008. Thanks banget Ayah…..
Pada tanggal 5 Desember 2008 setelah sholat jum’at aku telpon Assisten Managerku untuk minta ijin pulang cepat karena mau pulang ke Malang dan harus ke Jakarta dulu, akhirnya dapat ijin juga. Tapi kembali lagi pekerjaan terutama tamu yang selalu datang di saat yang kritis begini mengganggu jadwal keberangkatan ke Jakarta, benar juga target keluar dari kantor jam 13.00 baru keluar jam 13.45. Akhirnya aku geber si Kuning ke rumah kostku karena si Kuning harus disimpan di kostan. Sampai di kostan sekitar 14.00, aku langsung membawa 2 stel pakian dan juga peralatan mandi. Sekitar pkul 14.15 aku keluar dari kostan untuk naik angkot menuju terminal. Ternyata cobaanku tak berhenti juga, ternyata bis aku naikin untuk ke arah Jakarta jalannya super lemot banget, jalur Purwakarta - Jakarta biasanya cuma ditempuh 1,5 jam bahkan hanya 1 jam menjadi di akses selama 2 jam. Sampai di UKI jam menunjukan pukul 17.00, wah nyampe ngga ya? Soalnya jadwal keretanya 17.15, ya semoga aja keretanya telat. Untungnya supir taksinya bisa ngerti pas aku minta agak cepet, dimana dia geber taksinya dengan kecepatan diatas normal. Hasilnya tidak buruknya juga sekitar pukul 17.30 aku sampai juga di stasiun Gambir. Lebih membahagian lagi ternyata KA Gajahyana terlambat, saat aku bergegas lari ke atas tempat keberangkatan penumpang KA Gajahyana baru masuk jalur 1. Wah pas banget…… Thanks God….
Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam dari Stasiun Gambir Jakarta, sekitar pukul 09.30 aku sampai juga di Stasiun Kota Baru Malang dan tentunya Ayah tercinta sudah setia menunggu untuk menjemput anak tertuanya ini..
Dari stasiun jadwalnya adalah langsung ke makam Ibu, tapi tentunya sarapan dulu donk karena perut sudah berontak. Akhirnya kita mampir ke warung nasi pecel yang ngga jauh dari kompleks makan tempat ibu dan beberapa keluarga di makamkan. Weh…. mantab banget nich.. ternyata udah lama banget ngga merasakan nasi pecel khas Jawa Timur apalagi warung yang aku kunjungi sudah ada sejak aku kecil dimana sekarang yang jualan sudah anak-anaknya yang umur sudah seusiaku karena sang Ibu udah pensiun karena udah ngga kuat jualan lagi.
Setelah puas menikmati nasi pecel yang lumayan pedas, langsung meluncur ke ke makam nenek dulu. Nenak disini adalah Ibu dari Ayah, dimana disekitar makam ada makam beberapa saudara jumlahnya 5 makam, mulai dari adek Ayah, kakanya Ayah, ponakan Ayah, cicitnya Nenek, dan saudara Nenek. Kebetulan ada 2 orang yang menawarkan jasa membersihkan makam, maka langsung aku minta untuk membersihkan semua makan yang kebetulan saling berdekatan. Setelah selesai membersihkan makam-makam Nenek dan sekitarnya, maka prosesi selanjutnya adalah menebarkan bunga yang sebelumnya dibeli saat perjalanan dari stasiun ke warung nasi pecel. Sejurus kemudian Aku dan Ayah membacara surat Yasin dan tahlil di sekitar makam. Setelah selesai dari makam Nenek perjalanan dilanjutkan ke makam Ibu yang kebetulan masih kompleks namun berjauhan lokasi karena komplek makam ini merupakan kompleks makam terluas di Kota Malang. Sesampainya di makam Ibu seperti biasa Mas Joko yang diserahi untuk merawat Ibu langsung bergerak untuk membersihkan makam dan juga menyiramnya agar terlihat segar, acara dilanjutkan dengan membacakan surat Yasin dan tahlil. Makam Ibu diapit oleh 2 makam orang tuanya Ibu, jadi Kakek dan Nenek dimakamkan di kiri dan kanan makam Ibu. Setelah pulang dari makam acara selenjutnya adalah pulang ke rumah.
Sore harinya acaranya adalah ke rumah Pak Dhe, dimana Pak Dhe disini adalah suami dari Kakaknya Ibu dimana Ibu adalah anak kedua dari lima bersaudara. Disana acaranya adalah membahas rencana perjalanan dari Malang ke Purwakarta. Terdapat beberapa usulan-usulan mengenai cara ke Purwakarta dalam perbincangan dengan Pak Dhe dan Bu Dhe tentunya dengan Ayah. Namun semua usulan yang masuk hanya sekedar usul karena semua runtutan acara mengikuti rencananya yang sudah aku susun. Setelah dari rumah Pak Dhe perjalanan dilanjutkan ke rumah Pak Lek (anak ketiga dan adek dari Ibu) yang kebetulan dibelakang rumah Pak Dhe. Setelah itu acaranya adalah kembali lagi ke rumah.
Keesokan harinya acaranya ke makam Kakek (bapak dari Ayah) di daerah Wonolopo yang ditempuh sekitar 1 jam naik motor dari rumah. Dari makam Kakek dilanjut ke Panjen untuk ikut Ayah untuk acara pertemuan para pensiunan PT KAI. Setelah dari acara pertemuan dilanjutkan ke kantor PO Bagong untukmenyelesaikan pembayaran untuk sewa bus, tapi saat kesana orang yang bertanggung jawab sedang keluar kantor maka dijanjikan untuk keesokan harinya datang lagi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke baso Duro yaitu baso khas Panjen, dan rasanya masih seperti dulu tetap nikmat sampai habis 2 mangkok he..he..
Dari baso Duro perjalanan dilanjutkan ke rumah adek dari Nenek(Ibunya Ayah), disana acara utama yaitu sosialisasi rencana pernikahanku dilakukan ke adek Nenek dan juga anak-anaknya yang kebetulan rumah berada di kanan dan kiri rumah adek Nenek. Setelah dari sana perjalanan dilanjutkan ke rumah Pak Lek (adeknya Ibu) di daerah Singosari. Selama perjalanan ke Singosari ditemani oleh hujan yang sangat lebat… Hyuh… cobaan lagi kali ya…
Sesampainya di rumah Pak Lek ternyata Pak Lek sedang jalan ada muatan ke Yogya dan ditemani oleh Bu Lek dan anak-anaknya. Disana acara sosialisasi dilakukan kembali dan menjelaskan rencana perjalanan ke Purwakarta. Setelah dari rumah Pak Lek tujuan selanjutnya adalah pulang untuk istirahat karena badan capek banget karena seharian ada dijalan.
Keesokan harinya Aku, Ayah, dan Resti melakukan sholat Idul Adha di masjid kampung yang jaraknya hanya 200 m dari rumah. Pulang dari sholat dan setelah istirahat sejenak, acara dilanjutkan keliling ke rumah kakak-kakak dari Ayah kebetulan satu kampung untuk sosialisasi rencana pernikahanku dan perjalanan ke Purwakarta, setelah itu dilanjutkan ke kantor PO Bagong yang di Panjen. Perjalanan kurang lebih 1 jam selesai dilalui maka sampailah di kantor PO Bagong, disana aku lihat-lihat bus-bus pariwisata yang dimiliki oleh PO Bagong. PO Bagong memiliki 2 jenis bus pariwasata, yaitu yang berkapasitas 29 dan 39 tempat duduk dan kedua jenis bus ini masuk dalam kedalam bus kecil (bus 3/4). Setelah melihat-melihat kedalam bus maka aku memilih bis yang kapasitasnya 29 tempat duduk karena suasanya lebih nyaman dibanding bus yang kapasitasnya 39. Kemudian setelah menetapkan pilihan bis mana yang akan digunakan maka selanjutnya adalah menyelesaikan pembayaran dibagian administrasi.
Tujuan selanjutnya setelah dari PO Bagong adalah ke rumah makan Mina yaitu rumah makan yang menu utamanya adalah anekan olehan ikan. Disana aku sudah meminta kelurga Pak Dhe untuk datang dan makan bersama. Setelah selesai acara makam siang di rumah makam Mina, tujuan selanjutnya adalah kembali kerumah untuk persiapan pulang ke Purwakarta. Sesampainya dirumah, acara selanjutnya adalah beres-beres dan mandi. Setelah selesai semua urusan maka aku pamit ke Bu Dhe (kakak dari Ayah) yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku dan tentunya pamit dengan adek bototku Resti. Tujuan selanjutnya adalah kampung Sanan yaitu sebuah kampung yang berisi para pengrajin aneka kripik dan menjadi tujuan orang mencari oleh-oleh khas Malang. Sesampainya di Sanan langsung menuju ke rumah langgananku kalok belanja oleh-oleh, dan disana aku menetapkan untuk membawa kripik nangka aja karena kalok kripik tempe takutnya bosen karena sudah sering aku bawa sebagai oleh-oleh.
Pulang dari tempat penjualan oleh-oleh langsung meluncur ke Stasiun Kota Baru tentunya masih diantar oleh Ayah tercinta dan ditemani oleh hujan yang sangat lebat. Sesampainya di Stasiun Kota Baru ternyata kereta diberangkat terlambat 10 menit dari jadwal yang seharusnya yaitu pukul 15.25 menjadi 15.35. Namun akhirnya masih terlambat juga keretanya berangkat yaitu tepat pukul 15.45 kereta baru meluncur meninggalkan Stasiun Kota Baru Malang menuju Stasiun Gambir Jakarta. Selamat tinggal malang ketemu lagi nanti tanggal 26 Desember 2008 ya…. 