Malam ini jam menunjukan pukul 21.02 waktu laptop aku dan suasana diluar lagi gerimis, suasanya sunyi dan dingin, khas banget suasan musim hujan. Makanya banyak orang yang menikah dibulan Desember 2008 ini termasuk aku tentunya.. :)

Ngomong-ngomong mengenai tentang menikah, beberapa orang merasa menikah ada hal yang memberatkan. Mulai dari alasan belum bisa bertanggung jawab, pengasilan yang belum mencukupi, sampai dengan acara pernikahan yang ribet. Untuk hal terakhir tadi kadang ada benar juga, dimana bukan hanya pas acara pernikahnnya aja namun persiapannya yang ribet he.. he.. :D (jadi curhat nich… :) )

Salah satu persiapan pernikahan yang kadang buat sebagain ribet adalah mengurus surat-surat untuk pernikahan. Sebagain orang menganggap mengurus surat-surat untuk pernikahan seribet seperti membuat KTP. Kadang benar tapi kadang ngga juga hal tersebut. Dimana yang aku alami saat membersiapkan surat-surat pernikahan menurutku ngga terlalu ribet. Berikut beberapa hal-hal yang aku lalui untuk mengurus surat-surat untuk pernikahan yang aku selesaikan 1,5 bulan lalu.

  1. Disisi pria hal yang paling utama adalah memiliki KTP di daerah tempat Anda akan melakukan pernikahan, sebab kalok KTP yang Anda miliki masih KTP tempat Anda yang tinggal sebelumnya maka Anda harus mengurus surat menumpang nikah dari KAU daerah asal Anda. Kebetulan aku sudah memiliki KTP dimana aku berdomisili sekarang yaitu Purwakarta, ya walupun pake acara nembak untuk mendapatkannya he..he… :D
  2. Jika Anda sudah memiliki KTP dimana Anda berdomisili, langkah selanjutnya adalah membuat surat keterangan domisili dan keterangan Anda adalah bujangan dari RT, RW, dan Kelurahan setempat.
  3. Setelah mendapat mendapat surat keterangan domisili dan surat keterangan bujangan sampai dengan tingkat Kelurahan, langkah selanjutnya adalah membawa surat-surat tersebut ke KAU dari Kecamatan dimana Anda berdomisili (sesuai KTP) untuk mendapatkan surat pengantar untuk melangsungkan pernikahan di wilayah dari KUA dimana Anda akan melakukan nanti. Kalok aku suratnya ditujukan ke KUA Wanayasa
  4. Setelah surat pengantar di dapatkan dari KUA tempat Anda berdomisili, langkah selanjutnya mendaftarkan diri Anda dan pasangan Anda ke KUA tempat Anda akan melangsungkan pernikahan yaitu dengan mengisi formulir yang disediakan kemudian melampirkan fotocopy Anda dan pasangan Anda, surat pengantar dari KUA tempat Anda berdomisili, fotocopy ijasah terakhir dari kedua pasangan, dan pas foto berwarna ukuran 2×3 sebanyak 4 buah dari kedua pasangan
  5. Sedangkan untuk biaya pernikahan yang ditetapkan oleh KUA Wanayasa adalah sebesar 450rb dan itu sudah mencangkup seluruh biaya dan ngga ada biaya lagi.
  6. Setelah membayar biaya pernikahan dan juga kelengkapan suratnya lengkap diserahkan, maka Anda tinggal menunggu aja jadwal di waktu yang telah Anda ajukan ke KUA.

Saya rasa ngga ribet khan cara mengurus surat-surat pernikahan. Jadi mending kawin surat dan dari pada kawin urat. Dijamin selamat dunia akherat deh…. :D

 

Setelah bergadang mulai dari jam 21.00 - 03.00 akhirnya website dari pernikahanku selesai juga. Setelah istirahat sejenak dan sedikit perjuangan karena koneksi yang ada hanya gprs maka seluruh data websitenya selesai ditempatkan di server hostingku. Silahkan yang mengunjungi situs pernikahanku klik aja www.mywebwedding.com dan jangan lupa isi buku tamunya. Nuhun

 

Awalnya aku dan calon istri tidak punya rencana untuk membuat foto pre-wedding soalnya masih risih dengan konsep prewedding karena kebanyakan prewedding posenya rada-rada gimana gitu :D Masalahnya khan waktu bikin foto prewedding pastinya statusnya belum sah jadi suami istri tapi kok posesnya udah aneh-aneh he..he… Tapi kesini-kesininya kok pengen juga bikin prewedding buat pajangan di depan saat tamu mau masuk, tapi kalok buat aku sih buat materi pendukung website soalnya rasanya kok garing kalok ngga ada fotonya. Tentunya konsepnya kita ngga boleh pake pose yang aneh-aneh! Pose aneh-anehnya setelah nanti resmi nikah :D

Akhirnya diputukan hari Minggu tanggal 14 Desember 2008 aku dan calon untuk pergi ke D’Potret salah satu studio foto yang ada di Purwakarta. Aku memilih D’Potret  karena memiliki studio foto yang cukup luas dibanding studio foto lainnya di Purwakarta. Namun selain alasan luasnya studionya aku memilih D’Potret karena cocok dengan cara kerja mereka. Kebetulan beberapa kali foto buat kantor di D’Potret dan kebetulan di handle langsung oleh owner-nya langsung yaitu Kang Dodi dan aku puas dengan cara kerja dan hasilnya, terutama totalias dari Kang Dodi saat proses pengambilan fotonya.

Aku dan calon istri janjian untuk ketemuan sekitar kami 13.00, karena menunggu aku selesai ngajar dulu. Akhirnya sekitar jam 13.00 kita ketemuan di deket salon langganan nyonya, tapi karena hari minggu ternyata salonnya tutup karena yang punya pergi ke gereja. Lalu diputuskan ke salon lain yang kebetulan nyonya cocok ama pelayanannya yaitu Iman Salon. Oh ya tujuan nyonya bukan make up buat pemotretan tapi buat merapikan rambutnya aja karena menurut dia rambutnya sudah acak-acakan. Sesampainya di Iman Salon ada 1 customer yang sedang di layanani, karena aku paling males berlama-lama di salon akhirnya nyonya aku tinggalin ke kantor dulu soalnya ada beberapa data yang harus dikirim. Sekitar jam 14.00 nyonya sms minta di jemput karena acara ‘ngrapiin’ rambut sudah selesai.

Selepas dari Iman Salon acara selanjutnya yaitu makan siang, kebetulan dari pagi aku belum makan siang jadi perut sudah memberontak. Warung tujuan kita adalah Kangen Raos untuk menu tujuan adalah bebek kremes. Aku seperti biasa pesen bebek goreng kremes dan nyonya bebek bakar. Mmmm.. nikamat…..

Dari acara isi bahan bakar buat perut jadwal selanjutnya ada pergi ke D’Potret, tapi sungguh sayang sesampainya di sana para krunya sedang tidak ada di tempat dan semua peralatannya juga dibawa karena kebetulan sedang ada jadwal pemotretan acara pernikahan. Sama teteh yang jaga dijanjikan untuk datang lagi jam 17.00 karena jam segitu Kang Dodinya sudah datang. Wah harus nuggu 2 jam lagi nich… Kemana ya buat nunggu 2 jam ini? Akhirnya kita putuskan nyari referensi tempat foto yang lain dan kita putuskan ke Malibu 69 di Mall STS. Sesampainya di Malibu 69 langsung disambut ama mas-mas asli Yogya karena kelihatan dari logat medoknya. Tanya-tanya paket yang disediakan. Tapi setelah dipikir-pikir kok lebih mahal dari D’Potret ya? Wah ngga jadi aja deh…

Karena masih 1 jam lagi menuju jam 17.00 maka seperti biasa nyonya melakukan window shooping ke Ramayana yang kebetulan bertempat di Mall STS juga. Setelah keliling-keliling akhirnya nyonya cocok dengan baju terusan berbahan kaos dengan modem seperti gaun dan baju tidur warna pink. Untuk baju tidur sih sebarnya aku yang maksa buat beli soalnya mmmm… he..he… :D

Ternyata acara window shooping dan ternyata jadi shooping juga mengantarkan kita sampai ke jam 18.00, wah udah malem ya. Akhirnya kita putuskan segera ke D’Potret karena takut tutup kerena tutupnya jam 20.00. Sesampainya di D’Potret ternyata benar janji si Teteh karena Kang Dodinya sudah ada. Aku kemudian nyobrol untuk nanya paket-paketnya. Akhirnya aku putuskan untuk ambil 2 paket yang terdiri dari 6 kali cetak foto ukuran 4R beserta CD-nya dan cetak ukuran 16R dengan bingkainya sekalian.

Selesai acara nego-nego harga dan mencapai kesepakatan maka langsung ke sesi pemotretan. Dari 6 kali cetak foto kita bagi menjadi 2 sesi yaitu 3 foto dengan baju batik dan 3 foto dengan baju kok warna putih. Wah ternyata capek juga di foto itu ya kerena harus sering nahan gaya dan senyum, mending moto deh. Setelah selesai sesi pemotretan lalu kita pilih-pilih foto mana aja yang mau dicetak. Selesai memilih foto mana aja yang mau dicetak lalu aku minta di copykan ke dalam cd foto-foto yang menurut aku bagus sebagai bahan untuk membuat website.

Selesai semua urusan di D’Potret tujuan selanjutnya adalah balik ke Wanayasa karena jam sudah menunjukan pukul 20.00 dan cuaca mulai hujan maka harus sesegera mungkin balik. Nanti hari Jum’at tanggal 19 Desember 2008 balik lagi ke D’Potret untuk ambil hasil fotonya. Semoga bagus ya hasilnya, tapi kayaknya sih bagus soalnya hasil kasarnya udah lumayan kok tentunya dengan sedikit ‘retouch’ pasti lebih bagus.

 

Pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2008 sekitar pukul 16.00 aku ikut serta dalam rapat keluarga dari calon istri yang membahas tentang rencana pernikahan kami. Dalam rapat tersebut agendanya adalah finalisasi dari semua rencana yang telah di susun dan dibahas dalam rapat sebelumnya. Aku tidak terlalu banyak komentar tentang apa yang dibahas dalam rapat tersebut karena hal-hal yang dibahas dalam rapat tersebut adalah tugas-tugas dari pihak wanita jadi aku lebih jadi pendengar setia aja deh… Tapi dari apa yang dibahas seperti semua hal yang terkait dengan acara tanggal 21 Desember 2008 sudah diproses dengan baik. Sehingga statusnya saat ini adalah berdo’a agar pelaksanaannya nanti dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan. Amin

 

Sesuai dengan janji pada Catatan Keenam untuk menceritakan acara pulang kampung ke Malang, maka di Catatan Kedelapan ini membagi cerita tetang perjalanan ke Malang. Sejak lama memang sudah aku rencanakan untuk pulang kampung sebelum acara pernikahanku. Tujuan utamaku adalah ziarah ke makan almarhum ibunda tercinta. Akhirnya aku putuskan pulan tanggal 5 Desember 2008 karena pertimbangannya ada Idul Adha pada tanggal 8 Desember 2008 jadi ada libut total 3 hari, jadi ngga perlu ngajuin cuti cuman ijin terlambat pas tanggal 9 Desember 2008 karena baru pulang tanggal 8 Desember 2008 sore harinya.

Karena tidak direncanakan jauh-jauh hari untuk pemesanan tiket, benar sudah kesulitan aku dapatkan saat mencari tiket. Tiket kereta api yang menjadi target utama ternyata habis hampir semua jurusan untuk tanggal 5 Desember 2008 dan tentunya untuk kereta jurusan Malang yaitu KA Gajahyana. Harga tiket pesawat jurusan Malang juga gila-gilaan harganya dari biasanya cuman 400rb - 500rb tembuh jadi 900rb-an. Akhirnya coba hubungi Ayah di Malang untuk meminta bantuan untuk mencarikan tiket tanggal 5 Desember dan tanggal 8 Desember 2008 untuk pulang dari Malang ke Jakarta. Akhirnya dengan sedikit menggunakan kemampuan akses ke bagian tiket maka sukses untuk mendapatkan tiket tanggal 5 dan 8 Desember 2008. Thanks banget Ayah….. :)

Pada tanggal 5 Desember 2008 setelah sholat jum’at aku telpon Assisten Managerku untuk minta ijin pulang cepat karena mau pulang ke Malang dan harus ke Jakarta dulu, akhirnya dapat ijin juga. Tapi kembali lagi pekerjaan terutama tamu yang selalu datang di saat yang kritis begini mengganggu jadwal keberangkatan ke Jakarta, benar juga target keluar dari kantor jam 13.00 baru keluar jam 13.45. Akhirnya aku geber si Kuning ke rumah kostku karena si Kuning harus disimpan di kostan. Sampai di kostan sekitar 14.00, aku langsung membawa 2 stel pakian dan juga peralatan mandi. Sekitar pkul 14.15 aku keluar dari kostan untuk naik angkot menuju terminal. Ternyata cobaanku tak berhenti juga, ternyata bis aku naikin untuk ke arah Jakarta jalannya super lemot banget, jalur Purwakarta - Jakarta biasanya cuma ditempuh 1,5 jam bahkan hanya 1 jam menjadi di akses selama 2 jam. Sampai di UKI jam menunjukan pukul 17.00, wah nyampe ngga ya? Soalnya jadwal keretanya 17.15, ya semoga aja keretanya telat. Untungnya supir taksinya bisa ngerti pas aku minta agak cepet, dimana dia geber taksinya dengan kecepatan diatas normal. Hasilnya tidak buruknya juga sekitar pukul 17.30 aku sampai juga di stasiun Gambir. Lebih membahagian lagi ternyata KA Gajahyana terlambat, saat aku bergegas lari ke atas tempat keberangkatan penumpang KA Gajahyana baru masuk jalur 1. Wah pas banget…… Thanks God….

Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam dari Stasiun Gambir Jakarta, sekitar pukul 09.30 aku sampai juga di Stasiun Kota Baru Malang dan tentunya Ayah tercinta sudah setia menunggu untuk menjemput anak tertuanya ini.. :D Dari stasiun jadwalnya adalah langsung ke makam Ibu, tapi tentunya sarapan dulu donk karena perut sudah berontak. Akhirnya kita mampir ke warung nasi pecel yang ngga jauh dari kompleks makan tempat ibu dan beberapa keluarga di makamkan. Weh…. mantab banget nich.. ternyata udah lama banget ngga merasakan nasi pecel khas Jawa Timur apalagi warung yang aku kunjungi sudah ada sejak aku kecil dimana sekarang yang jualan sudah anak-anaknya yang umur sudah seusiaku karena sang Ibu udah pensiun karena udah ngga kuat jualan lagi.

Setelah puas menikmati nasi pecel yang lumayan pedas, langsung meluncur ke ke makam nenek dulu. Nenak disini adalah Ibu dari Ayah, dimana disekitar makam ada makam beberapa saudara jumlahnya 5 makam, mulai dari adek Ayah, kakanya Ayah, ponakan Ayah, cicitnya Nenek, dan saudara Nenek. Kebetulan ada 2 orang yang menawarkan jasa membersihkan makam, maka langsung aku minta untuk membersihkan semua makan yang kebetulan saling berdekatan. Setelah selesai membersihkan makam-makam Nenek dan sekitarnya, maka prosesi selanjutnya adalah menebarkan bunga yang sebelumnya dibeli saat perjalanan dari stasiun ke warung nasi pecel. Sejurus kemudian Aku dan Ayah membacara surat Yasin dan tahlil di sekitar makam. Setelah selesai dari makam Nenek perjalanan dilanjutkan ke makam Ibu yang kebetulan masih kompleks namun berjauhan lokasi karena komplek makam ini merupakan kompleks makam terluas di Kota Malang. Sesampainya di makam Ibu seperti biasa Mas Joko yang diserahi untuk merawat Ibu langsung bergerak untuk membersihkan makam dan juga menyiramnya agar terlihat segar, acara dilanjutkan dengan membacakan surat Yasin dan tahlil. Makam Ibu diapit oleh 2 makam orang tuanya Ibu, jadi Kakek dan Nenek dimakamkan di kiri dan kanan makam Ibu. Setelah pulang dari makam acara selenjutnya adalah pulang ke rumah.

Sore harinya acaranya adalah ke rumah Pak Dhe, dimana Pak Dhe disini adalah suami dari Kakaknya Ibu dimana Ibu adalah anak kedua dari lima bersaudara. Disana acaranya adalah membahas rencana perjalanan dari Malang ke Purwakarta. Terdapat beberapa usulan-usulan mengenai cara ke Purwakarta dalam perbincangan dengan Pak Dhe dan Bu Dhe tentunya dengan Ayah. Namun semua usulan yang masuk hanya sekedar usul karena semua runtutan acara mengikuti rencananya yang sudah aku susun. Setelah dari rumah Pak Dhe perjalanan dilanjutkan ke rumah Pak Lek (anak ketiga dan adek dari Ibu) yang kebetulan dibelakang rumah Pak Dhe. Setelah itu acaranya adalah kembali lagi ke rumah.

Keesokan harinya acaranya ke makam Kakek (bapak dari Ayah) di daerah Wonolopo yang ditempuh sekitar 1 jam naik motor dari rumah. Dari makam Kakek dilanjut ke Panjen untuk ikut Ayah untuk acara pertemuan para pensiunan PT KAI. Setelah dari acara pertemuan dilanjutkan ke kantor PO Bagong untukmenyelesaikan pembayaran untuk sewa bus, tapi saat kesana orang yang bertanggung jawab sedang keluar kantor maka dijanjikan untuk keesokan harinya datang lagi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke baso Duro yaitu baso khas Panjen, dan rasanya masih seperti dulu tetap nikmat sampai habis 2 mangkok he..he.. :D

Dari baso Duro perjalanan dilanjutkan ke rumah adek dari Nenek(Ibunya Ayah), disana acara utama yaitu sosialisasi rencana pernikahanku dilakukan ke adek Nenek dan juga anak-anaknya yang kebetulan rumah berada di kanan dan kiri rumah adek Nenek. Setelah dari sana perjalanan dilanjutkan ke rumah Pak Lek (adeknya Ibu) di daerah Singosari. Selama perjalanan ke Singosari ditemani oleh hujan yang sangat lebat… Hyuh… cobaan lagi kali ya… :) Sesampainya di rumah Pak Lek ternyata Pak Lek sedang jalan ada muatan ke Yogya dan ditemani oleh Bu Lek dan anak-anaknya. Disana acara sosialisasi dilakukan kembali dan menjelaskan rencana perjalanan ke Purwakarta. Setelah dari rumah Pak Lek tujuan selanjutnya adalah pulang untuk istirahat karena badan capek banget karena seharian ada dijalan.

Keesokan harinya Aku, Ayah, dan Resti melakukan sholat Idul Adha di masjid kampung yang jaraknya hanya 200 m dari rumah. Pulang dari sholat dan setelah istirahat sejenak, acara dilanjutkan keliling ke rumah kakak-kakak dari Ayah kebetulan satu kampung untuk sosialisasi rencana pernikahanku dan perjalanan ke Purwakarta, setelah itu dilanjutkan ke kantor PO Bagong yang di Panjen. Perjalanan kurang lebih 1 jam selesai dilalui maka sampailah di kantor PO Bagong, disana aku lihat-lihat bus-bus pariwisata yang dimiliki oleh PO Bagong. PO Bagong memiliki 2 jenis bus pariwasata, yaitu yang berkapasitas 29 dan 39 tempat duduk dan kedua jenis bus ini masuk dalam kedalam bus kecil (bus 3/4). Setelah melihat-melihat kedalam bus maka aku memilih bis yang kapasitasnya 29 tempat duduk karena suasanya lebih nyaman dibanding bus yang kapasitasnya 39. Kemudian setelah menetapkan pilihan bis mana yang akan digunakan maka selanjutnya adalah menyelesaikan pembayaran dibagian administrasi.

Tujuan selanjutnya setelah dari PO Bagong adalah ke rumah makan Mina yaitu rumah makan yang menu utamanya adalah anekan olehan ikan. Disana aku sudah meminta kelurga Pak Dhe untuk datang dan makan bersama. Setelah selesai acara makam siang di rumah makam Mina, tujuan selanjutnya adalah kembali kerumah untuk persiapan pulang ke Purwakarta. Sesampainya dirumah, acara selanjutnya adalah beres-beres dan mandi. Setelah selesai semua urusan maka aku pamit ke Bu Dhe (kakak dari Ayah) yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku dan tentunya pamit dengan adek bototku Resti. Tujuan selanjutnya adalah kampung Sanan yaitu sebuah kampung yang berisi para pengrajin aneka kripik dan menjadi tujuan orang mencari oleh-oleh khas Malang. Sesampainya di Sanan langsung menuju ke rumah langgananku kalok belanja oleh-oleh, dan disana aku menetapkan untuk membawa kripik nangka aja karena kalok kripik tempe takutnya bosen karena sudah sering aku bawa sebagai oleh-oleh.

Pulang dari tempat penjualan oleh-oleh langsung meluncur ke Stasiun Kota Baru tentunya masih diantar oleh Ayah tercinta dan ditemani oleh hujan yang sangat lebat. Sesampainya di Stasiun Kota Baru ternyata kereta diberangkat terlambat 10 menit dari jadwal yang seharusnya yaitu pukul 15.25 menjadi 15.35. Namun akhirnya masih terlambat juga keretanya berangkat yaitu tepat pukul 15.45 kereta baru meluncur meninggalkan Stasiun Kota Baru Malang menuju Stasiun Gambir Jakarta. Selamat tinggal malang ketemu lagi nanti tanggal 26 Desember 2008 ya…. :)

 

Tanggal 4 Desember 2008 aku dan nyonya sudah sepakat untuk datang ke toko mas untuk pesen perhiasan buat mas kawin. Aku janji jemput nyonya jam 15.30, tapi seperti biasa karena kerjaan yang ngga sepi-sepinya maka aku jadi ‘ngaret’ deh. Karena tokonya tutup jam 17.00 maka aku minta nyonya datang dulu ke toko mas untuk milih perhiasan yang cocok dan juga nanya kalok tukar tambah dengan simpanan emas yang kita punya biaya berapa? Jadi pas aku ke toko mas tinggal bagian bayar aja.

Setelah buru-buru menyelesaikan pekerjaan sampai sempet marah-marah ama kurir karena ngga beres kerjaannya, maka aku bisa kabur dari kantor sekitar jam 16.30 (maaf ya korupsi 30 menit). Sesampainya di toko mas AS tempat nyonya milih-milih perhiasan yang pas. Sesampainya di toko mas AS semunya sudah beres, mulai dari memilih model perhiasan yang cocok ama nyonya dan juga perhitungan biaya dengan sistem tukar tambah dengan simpanan emas yang kita punya. Hasilnya nyonya sudah memilih 3 jenis perhiasan, yaitu cicin, gelang, dan kalung yang total adalah 21,15 gram. Sebenarnya pengennya total jadi 21,12 gram untuk menyesusaikan dengan tanggal dan bulan pernikahan tapi kata tokonya ngga bisa segitu beratnya, angka yang bisa dibikinin adalah kelipatan 5 setelah koma maka di genepin ke 15 dibelakang koma. Setelah dilihat biaya yang harus ditambah ngga sebesar yang aku prediksi karena yang punya toko baik juga ngasih discount lumayan juga… Makasih ya Ko….

Setelah itu cicinnya pengen di grafir dengan tulisan apa? Maka ditetapin yang tulis yang digrafir pada cincinnya adalah inisial kita yaitu R-A dan tanggal pernikahan yaitu 21.12.2008. Untuk waktu pemesanan dijanjikan bisa diambil hari Minggu tanggal 7 Desember 2008 (walau akhirnya lebih cepat selesainya yaitu tanggal 6 Desember 2008). Ok deh ngga masalah masih masuk dalam jadwal. Setelah membereskan masalah keuangan dan yang punya toko membuatkan corat-coret buat data pemesanan aku pamit untuk undur diri.

Selesai dari toko mas AS, nyonya minta dianter ke butik buat beli baju. Weleh beli baju apalagi nich…? Ternyata buat baju yang buat seserahan nanti, emang masih kurang ya…? Akhirnya kita muluncur ke sebuah butik baju-baju busana muslim di depan Pelangi Plaza. Setelah melihat-lihat koleksi yang ada, akhirnya nyonya menentukan pilihannya pada sebuah baju koko dengan motif batik khas suku Asmat di Papua. Ya untuk selera no comment deh, terserah dia. Setelah di cek harganya juga ngga terlalu mahal, ya udah langsung meluncur ke kasir untuk pembayaran. ‘Tapi pake budget seserahan ya, khan masih ada budgetnya’, kataku pada nyonya dan tanggapi dengan senyuman sambil mengeluarkan uang yang diserahkan ke teteh yang jaga kasir.

 

Wah lama banget ya ngga meng-update blog, sampai catatan Kelima yang harusnya sudah di-upload tanggal 30 November 2008 baru ke-upload hari ini. Tapi ini bukan karena males meng-update Blog loh… Tapi karena ngga sempet aja karena kesibukan pekerjaan dan juga kesibukan mempersiapkan hari pernikahan. Selain itu juga memang sedang ngga ada bahan buat ditulis.. :D

Pada catatan keenam ini, aku pengen cerita tentang hal-hal yang sudah dilakukan untuk persiapan pernikahan khususnya yang sudah dilakukan di Purwakarta. Soal ada juga persiapan yang harus aku lakukan ke Malang, nah kalok yang itu ceritanya pada catatan kedelapan aja ya.. :)

Sebelum pulang ke Malang, ada beberapa persiapan yang harus diselesaikan di Purwakarta untuk acara besar aku dan calon istriku, yaitu mengambil hasil cetakan undangan dan menyelesaikan 50% biaya dokumentasi.

Tepatnya tanggal 2 Desember 2008 sore, aku mengirim sms ke Mas Bony dari Art Design tempat aku memesan undangan pernikahan untuk menanyakan status dari cetakan undangan yang aku pesan. Beberapa menit kemudian ada balesan dari Mas Bony dan katanya undangan bisa diambil besok sore (3 Desember 2008). Wah seneng banget membaca sms tersebut, ternyata target undangan selesai tanggal 10 Desember 2008 bisa lebih cepat dari rencana. Selain itu juga bisa bawa undangannya saat pulang kampung buat lebaran Idul Adha. Setelah membaca sms dari Mas Bony aku langsung telp nyonya untuk menginformasikan kabar baik ini.

Pada tanggal 3 Desember 2008 tempatnya sore hari sekitar jam 4 sore aku jemput nyonya menggunakan si Kuning di kantornya, setelah itu langsung meluncur ke ATM buat ambil buat bayar sisa pembayaran dari pemesanan undangan da menggenapi 50% dari biaya dokumentasi. Setelah dari ATM langsung meluncur ke Art Design dan langsung disambut oleh mas-mas yang jaga waktu pesen dulu dan juga ada Mas Bony bareng istri dan si baby yang masih imut-imut. Sejurus kemudian aku langsung tanya tentang pesanan undangan ama sudah selesai? Ternyata undangan tinggal bungkusin pake plastik aja dan statusnya belum 100% selesai dan katanya 1 jam lagi bisa selesai semua. Ok deh ngga papa kalok tinggal ngebungkusin aja pasti ngga akan lama banget. Akupun minta hasil cetakan undangannya, dan seperti prediksi sebelumnya undangan kemungkinan adalah proyek gagal huh… Secara desain aku dan nonya sih cocok namun pemilihan warna birunya yang terlalu gelap dan birunya cenderung ke ungu kalok menurut aku, benar-benar diluar ekspetasi. Tapi ya udah deh, sudah jadi ini dan nggan terlalu jelek hasilnya selain itu komplen juga waktunya sudah mepet banget. Sambil menunggu proses membungkus selesai maka aku putuskan ke Jati Photo untuk menyerahkan 50% biaya untuk dokumentasi.

Keluar dari Art Design langsung aku meluncur ke arah Jatiluhur dengan tujuan Jati Photo. Kebetulan nyonya ngga bawa jaket, maka aku putuskan mampir ke kostan aku dulu untuk ambil jaket. Kebetulan jalur ke kostanku melewati Jati Photo sehingga masih satu jalur. Sesampainya di kostan aku ganti jaket dan sepatu dengan sandal karena cuaca sudah mulai gerimis. Benar juga belum sempat keluar dari area kostan ujan udah gede, akhirnya baju tempur untuk hujan harus segera dikenakan. Setelah selesai mengenakan baju tempur hujan tentunya bukan aku aja tapi juga nyonya, maka kita langsung meluncur ke Jati Photo.

Sesampainya di Jati Photo, awalnya disambut oleh anak pertama dari yang punya Jati Photo kira-kira umur 13-14 tahun. Kata si anak papanya ngga ada dirumah tapi ada mamanya. Ok deh ngga papa toh urusannya cuman masalah duit bisa ama mamanya. Setelah beberapa menit menunggu karena si tetehnya mandi dulu. Weh ujan-ujan liat orang baru mandi.. jadi seger juga… hush…. pikirannya itu loh…. :p  Setelah basa-basi sebentar aku langsung menyampaikan tujuan dari kita datang yaitu menyerahkan pembayaran selanjutnya untuk biaya dokumentasi. Dari rencana 50% dari biaya ternyata aku kasiin adalah 60%, ngga papa lah biar ngga kebanyakan tanggungan ntar. Setelah si teteh menerima dan menghitung yang yang kita kasih sejurus kemudian si teteh membuatkan kwitansi sebagai tanda terima. Sambil si teteh nulis aku tanya kemana si Aa-nya? Kata si tetehnya si Aa-nya sedang ada job ke Tasikmalaya, weh jauh juga dapet jobya. Setelah selesai membuatkan kwitansi dan basa-basi sesaat kita pamit ke si teteh.

Perjalanan dilanjutkan ke Art Design tentunya ditemani oleh hujan yang semakin deras aja… Wuih cobaannya lumayan juga nich mau nikah.. he..he.. :D Sesampainya di Art Design aku mendapati undangan sudah selesai dibungkus dengan plastik dan sedang dimasukan dalam 1 kardus. Ternyata kardusnya gede juga euy… Cukup ngga ya ntar di naikin ke motor? Setelah semua undangan dimasukan ke dalam kardus dan kardus dibungkus dengan tas palastik biar ngga basah, aku langsung menyelesaikan pembayaran dari biaya pemesanan undangan ini. Setelah itu dan juga sedikit basa-basi dengan Mas Bony aku pamit pulang. Ternyata benar susah ngaturnya si kardus buat dibawa di atas si Kuning. Setelah di atur-atur akhirnya dapat posisi yang pas bawa kardus ini, cuman harus merelakan kenyamanan berkendara. Karena cuaca selama perjalanan hujan sangat lebat dan susah belok karena ’stang’ motor geraknya terbatas oleh kardus yang aku bawa maka kecepatan yang biasanya rata-rata 80 KM/jam maka harus dikurangi separuhnya jadi larinya cuman 40 KM/jam. Hasilnya benar juga biasanya perjalanan Purwakarta - Wanayasa yang biasanya hanya 30 - 45 menit, jadi ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Tapi yang terpenting kita berdua dan kardus selamat sampai di rumah calon mertua.

 

Jam kerja udah lewat 1,5 jam menurut waktu dilaptop aku, saatnya untuk bisa buka blog dan update cerita deh…..

Kemarin hari Minggu tanggal 30 November 2008, calon istri jalan-jalan ke Jakarta buat cari seserahan, tepatnya sih melengkapi yang belum dibeli. Berangkatnya hari Sabtu tanggal 29 November 2008 sekitar jam 3 sore bareng ama saudaranya. SMS aku aku katanya baru bisnya baru berangkat jam 5 sore (weh sore banget sih…). Kurang lebih 3 jam perjalanan sampe juga di kostan saudaranya di daerah Kebon Jeruk (kata nyonya). Wah… lamanya juga perjalanannya… maklum deh namanya juga ke Jakarta pasti ada aja halangannya “Kota Macet” gitu loh…..

Aku nanya ama nyonya emang yang belum dibeli apa aja sih? Kata dia tinggal sepatu, tas, ama sendal (slop). Wah nyari gituan aja sampai ke Jakarta, emang di Purwakarta ngga ada gitu? Ya biarin deh, kadang cewek itu ribet banget kalok urusan model, ngga kayak cowok yang ngga terlalu ribet. Tapi karena waktu pernikahanku sudah dekat maka aku kasih warning harus dapat barang yang dicari pas di Jakarta nanti.

Pas tanggal 30 November 2008 malem akhirnya bisa sampai ke Wanayasa dengan selamat dengan membawa banyak banget bawaan. Ternyata ada beberapa barang yang sudah dibeli ama saudara nyonya yang ada di Jakarta sebelumnya, jadi saat nyonya ke Jakarta tinggal bawa. Hasilnya memang benar-benar orang belanja, yaitu satu tas gede (tas tarvel) penuh dengan barang-barang buat acara nikahan (seserahan-red). Melihat hal itu aku cuman menghela nafas sambil bergumam dihati, ribet banget. Tapi biarin aja deh asal dia seneng dan masih masuk budget :D

Aku lihat-lihat hasil belanja nyonya untuk barang-barang yang digunakan dalam acara seserahan ada beberapa macam, ada perlengkapan mandi, perlengkapan rias beserta kosmetiknya tentunya, pakaian, sepatu, tas, sandal, perlengkapan sholat, dan kain untuk bahan baju. Jadi bener deh namanya seserahan pasti harus memberikan perlekapan yang akan dipakai istri kita nanti setelah pernikahan. Pas… dech….

 

Wah ngga kerasa udah masuk catatan keempat nich! Biasanya kalok bikin blog ngga pernah bisa banyak bikin tulisannya paling banyak 2 kali posting udah ngga pernah ke urus lagi blognya. Dasar ngga bakat nulis atau emang malesnya ngga katulungan kali, kayanya sih alesan terakhir yang tepat he..he… :D

Pas nulis catetan keempat ini adalah malem minggu, tepatnya pukul 19.45 menurut waktu laptop aku. Malam minggu ini tidak seperti biasanya sih, soalnya malam minggu ini ngga setor muka ke Wanayasa soalnya calon istri sedang pergi ke Jakarta ama saudaranya buat acara nyari barang buat seserahan dan baru balik besok Minggu siang atau sore. Jadi rada bingung juga mau kemana malam minggu ini apalagi cuaca Purwakarta yang masih ujan walau ngga selebat waktu sore harinya. Akhirnya seperti biasa dech penyakit lama kambuh lagi, yaitu ‘dokter’ alias mondok dikantor. Seperti awal dulu kerja kantorku adalah rumahku he..he.. :D

Sebanarnya 2 hari terakhir ini tidak ada perkembangan yang signifikan dari perkembangan menuju lembaran baru, sebab statusnya masih menunggu baik menunggu hari H dan juga menunggu hasil cetakan dari undangan. Tapi ada satu hal yang bisa dibuat bahan coretan yaitu mengenai tujuan dari calon istri ke Jakarta hari ini yaitu mencari barang untuk melengkapi barang yang buat acara seserahan’nanti. Kata calon istri sih masih ada 3 barang lagi yang belum dapet dan ketiga barang itu selama ini pasti susah cocoknya kalok belanja ama calon istri soalnya masalah seleranya yang rada-rada susah. Makanya waktu ngasih info mau ke Jakarta buat beli barang seserahan langsung aku ultimatum dimana harus dapat barangnya kalok ngga harus beli yang ada saja di Purwakarta. Di Jakarta aja ngga ada yang cocok apalagi di Purwakarta padahal di Jakarta banyak tempat yang menjual barang-barang yang di inginkan oleh calon istri dan tentunya pilihannya lebih banyak dari pada di Purwakarta.

Sebenarnya bukan masalah barang yang akan dibeli oleh calon istri buat acara ’seserahan’, tapi arti dari kata ’seserahan’ itu sendiri. Mungkin dari Anda apalagi yang berasal dari Tanah Sunda atau domisili di dearah yang bersuku Sunda. ‘Seserahan’ merupakan salah satu tahapan acara dalam prosesi pernikahan di adat Sunda. Dimana dalam prosesi ’seserahan’ ini pihak pengantin pria memberikan barang-barang yang akan digunakan oleh pengantin wanita saat setelah menikah nanti. Barang-barang itu bisa berupa pakaian, perangkat tidur, sepatu, tas, bahkan sampe lemari. Jadi intinya apa yang dibutuhkan nanti setelah menikah dan mengawali bahtera rumah tangga nanti diberikan saat acara ’seserahan’. Nilai dan jumlah barang yang diberikan pada saat ’seserahan’ tergantung dari alokasi budget dari pengantin prianya dan juga keinginan dari pengantin wanita. Kalok aku sih ngasih mentahnya aja ama calon istri dan calon istri yang menentukan sendiri apa yang mau dibeli soalnya yang pake calon istri juga nantinya. Acara ’seserahan’ juga bisa diartikan sebagai komitmen dari pengantin pria bahwa di siap bertanggung jawab kepada keluarga pengantin wanita baik secara materi maupun yang lain setelah pernikahan nantinya.

Kata ’seserahan’ berasal dari kata ’serahan’ yang artinya barang yang diberikan dan karena jumlahnya lebih dari satu maka ditambah kata ’se’ di awal kata ’serahan’ maka jadi kata ’seserahan’. Dimana acara ’seserahan’ ini yang sering aku lihat adalah dilakukan setelah acara ’seren sumeren’ atau acara sambutan dari wakil masing-masing keluarga pengantin yang intinya pihak dari pengantin pria menyerahkan pengantin pria kepada keluarga pengantin wanita untuk dinikahkan dan menjadi bagian dari keluarga pengantin wanita, sebaliknya dalam acara ’seren sumeren’ ini pihak dari keluarga wanita menerima pengantin pria untuk menjadi bagian dari keluarga pengantin wanita dan nikahkan. Setelah komitmen saling menyerahkan dan menerima melalui acara ’seren sumeren’ maka dilanjutkan dengan acara ’seserahan’ dimana yang diberikan adalah barang-barang seperti yang diceritakan sebelumnya diatas dan juga si pengantin prianya juga untuk dinikahkan.

Dibeberapa derah di tanah Sunda kadang barang-barang yang diberikan bisa sampe seluruh isi rumah, seperti meja, kursi, tempat tidur, lemari, pakaian, selimut, alat rias, peralatan memasak, dan peralatan mandi. Maka bisa dibayangkan sampe pihak pengantin harus membawa truk untuk membawa barang-barang untuk ’seserahan’ ini. Namun dengan semakin modern-nya masyarakan maka barang-barang untuk ’seserahan’ tidak terlalu banyak, bukan karena si pangantin prianya ngga bisa beli (walaupun sebenarnya iya he..he..) namuna pertimbangan kepraktisan dan menggugurkan tradisi maka yang dibawa barang-barang yang ringan dan mudah dibawa saja seperti tas, sepatu, kosmetik, selimut, dan peralatan mandi. Untuk barang-barang yang gede seperti lemari atau tempat tidur bisa beli setelah nikahan nanti sekalian rumahnya kalok bisa he..he… :D

 

Wah…. capek juga jadi seorang buruh ya? Harus menempuk jarak sekitar 30 km menggunakan motor untuk follow up prospek. Tapi ini mungkin jalan hidup yang harus dijalani kali ye…. :) Udah ah curhatnya…. pembukaan kok udah diawali dengan curhat….

Hari ini aku pengen cerita beberapa hal yang udah dilakukan dalam rangka menapak lembaran baru, kemarin tanggal 26 November 2008 aku udah sudah menyelesaikan 2 rencana, yaitu suvenir dan dokumentasi.

Tanggal 26 November 2008 pukul 16.15 menurut jam Communicater Nokia 9500 black kesayanganku Ibu Lilis dari Toko Tanjung tempat dimana aku memesan suvenir sms bahwasannya pesanan suvenir untuk pernikahanku udah selesai. Wah sungguh plong rasanya setelah membaca sms dari Bu Lilis karena satu tugasku udah kelar. Aku langsung konfirm bahwa agak maleman akan ke toko untuk ambil suvenirnya.

Setelah konfirmasi ama yayang bahwa jadwal hari ini (tanggal 26 November 2008 - red) adalah konfirmasi desain undangan lalu ke Jati Photo untuk konfirmasi mengenai dokumentasi dan ambil suvenir ke Toko Tanjung. Sepulang kantor sekitar pukul 17.00 aku langsung meluncur ke Toserba Yogya untuk menjemput calon pendamping hidupku yang sudah lama menunggu disana (yang pasti manyun saat di jemput :p). Sesampainya di Toserba Yogya aku dapatin yayangku sedang pilih-pilih baju buat seragam dia besok dan yang terpenting ngga manyun kayak biasanya karena aku telat nyamperin. Setelah menyapa dan menginformasikan bahwa aku belum makan siang maka kita putuskan untuk turun ke foodcourt guna isi bensin perutku yang udah ngga bisa kompromi. Sesampainya di foodcourt menu yang aku pilih ada Soto Sulung isi daging, walau nasinya ngga ‘gue banget’ yang udah hajar aja buat ganjel aja, soalnya nyonya ntar pasti ngajakin jajan lagi.

Setelah isi bensin buat perutku yang semakin buncit ini he..he… :D Akhirnya kita ke atas lagi buat ambil baju yang udah dibeli ama nyonya, kemudian langsung meluncur dengan si Kuning ke Art Design buat liat hasil desain undangan. Sesampainya di Art Desain langsung disambut ama teteh-teteh, tepatnya sih ibu-ibu karena udah punya baby, aku langsung nanyain ada titipan gambar desain undangan dari Bony ngga? Ternyata print desain undangan udah tersedia udah ada. Pas lihat desainnya sih langsung cocok cuman warna birunya terlalu gelap dan beberapa jenis tulisannya kurang pas dan juga gambat petanya salah. Setelah melakukan beberapa koreksi akhirnya dikasiin lagi ke si teteh untuk di proses lebih lanjut terutama ke proses pencetakan. Dimana kata si teteh di janjiin minggu pertama bulan Desember 2008 undangan udah jadi. Wah seneng banget dengernya sebab target awalnya adalah tanggal 10 Desember 2008, jadi kalok bener undangan bisa di sebar lebih cepat. Semoga si teteh bisa menepati janjinya. Amin…..

Setelah selesai dengan urusan desain undangan di Art Design, perjalanan dilanjutkan ke Jati Photo. Si kuning motor Honda Supra 125 kembali aku tunggangi bersama calon istri menuju daerah Kembang Kuning lokasi di mana Jati Photo nongkrong sambil ditemani rintik-rintik ujang.. duh… cobaan lagi nich….! Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit kita sampai di lokasi kantor dan juga studio dari Jati Photo. Sebagai info Jati Photo ini dipilih karena referensi dari temennya nyonya dan katanya lumayan bagus hasilnya. Studionya sih ngga bagus-bagus amat, malah lebih bagus dari Art Design, itu kesan pertama yang aku tankep. Tapi biarin deh, yang penting hasil kerjanya, kata hati waktu itu. Saat di depan pintu eh udah terkesima ama anak berambut brokoli yang ternyata anak sebelah kantor yang biasa nongkrong di warung depan kantor. Ternyata ke kagetan bukan berhenti sampai di situ ternyata si kribo adalah asisten si fotografer utama yang namanya Pak Santos. Selain si Kribo ternyata asisten satunya lagi adalah adik dari temene nyonya di Wanayasa, wah bener nich sebuah ketidaksengajaan yang menarik. Setelah basa-basi sebentar dengan Pak Santos pemilik dan juga fotografer utama di Jati Photo, aku minta lihat hasil foto-foto yang udah pernah dibikin, ternyata hasilnya cukup memuaskan. Lalu obrolan dilanjutkan ke masalah harga, dimana Pak Santos buka harga 3 juta untuk paket foto digital dengan 2 album dan 1 buah DVD dokumentasi dan paket 2,6 juta untuk 2 album dari foto digital dan 2 buah CD dokumentasi dan kalok foto aja dengan 2 album adalah 2 juta. Wah mahal juga euy…. kirain foto aja bisa dapet 1,5 juta. Pembicaraan langsung aku belokkan ke masalah fotografi dan dokumentasi video yang kebetulan sedikit-sedikit aku tahu. Eh.. tenyata…. Ada manfaatnya juga aku ngobrolin masalah fotografi dan video editing, soalnya pas aku coba nanya lagi masalah harga yang tujuan utamanya adalah nego betapa kagetnya dimana awalnya Pak Santos ngga bisa turun dengan harga yang di pasang akhirnya bisa menurunkan harga. Dimana aku nawar untuk paket 2 album 2 dengan foto digital dan video dokumentasi dengan hasil akhir 1 buah DVD bisa dapet 2,5 juta ngga? Eh Pak Santos mengiyakan… Weh bener-bener seneng nich….! Thanks Pak…. :) Ada manfaatnya juga belajar fotografi selama ini, walau ngga pernah dapet duit dari moto tapi paling ngga bisa nurunin harga 500rb dari pengetahuan mengenai foto he.. he…. :D Sebagai tanda booking tanggal yayang aku minta untuk mengeluarkan uang 500rb yang awalnya sudah dipersiapkan untuk DP foto. Akhirnya bisa ngirit 1 juta nich, soalnya di Art Design paket yang sama di harga 3,5 juta dan ngga bisa nego lagi.

Setelah selesai dengan urusan foto di Jati Photo dan kebetulan ujan yang sebelumnya turun saat kita ngobrolin masalah foto dengan Pak Santos juga sudah reda, maka saya dan Reni pamit. Setelah dari Jati Photo perjalanan langsung dilanjut ke ATM BNI, di ATM BNI ambil uang buat lunasi pesenan suvenir dan juga transfer uang ke rekening Ayah buat sewa bis buat angkutan rombongan dari Malang ke Wanayasa.

Proses keuangan selesai di ATM BNI perjalanan dengan si Kuning dilanjutkan ke Toko Tanjung untuk ambil suvenir. Sesampainya di Toko Tanjung langsung disambut oleh senyum khas Bu Lilis yang tetap menarik walaupun udah memasuki usia senja. Setelah basa-basi sebentar kita langsung cek hasil akhir suvenir yang kita pesan apa sesuai dengan pesanan dan hasil sama dengan yang kita pesen. Thanks.. Bu Lilis for your support… :) Selesai pengecekap langsung dengan kita lunasi biaya beli suvenir sebesar 350rb dari total 550rb dimana 200rb udah dibayar saat pesen pertama sebagai uang DP. Oh ya sebagai bocoran suvenir untuk pernikahanku nanti adalah gantungan kunci dengan bentuk angklung yang terbuat dari bambu. Untuk fotonya nyusul ya…. Setelah selesai dengan urusan pembayaran kamipun pamit ke Bu Lilis, di akhir pembicaraan Bu Lilis mendo’akan semoga lancar acara kita… Amin……

Selepas dari Toko Tanjung, bener nich kalok makan ngga ‘gue banget’ akhirnya si perut protes minta di isi lagi, apalagi suasan dingin Purwakarta setelah di guyur hujan sangat mendukung perut untuk laper.. he.. he.. dasar perutnya aja yang pengen makan lagi… :P Maka kita putuskan untuk meluncur ke bubur ayam Sampurna yang kata spanduknya pernah di kunungi Mr. Bondan yang terkenal dengan ‘maknyus’ di Tran TV. Setelah menghabis semangkok bubur ayam spesial maka saat ini mengantarkan bidadariku tempat tinggalnya di Wanayasa. Masih ditemani si Kuning yang selalu mendukung saat ujan maupun panas kitapun meluncur menuju Wanayasa dech………